Rekonstruksi Motivasi Bagi Diri Sendiri

So karohi dīpamattano Khippaṁ vāyama paṇḍito bhavā’ti

Buatlah pulau bagi dirimu sendiri Berusahalah sekarang juga dan jadikan dirimu bijaksana.

(Dhammapada, Mala Vagga XVIII: 236)

Motivasi adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan. Motivasi bukanlah hal yang dapat diamati, tetapi adalah hal yang dapat disimpulkan adanya karena sesuatu yang dapat kita saksikan. Branca (1964) menuturkan bahwa “Motivasi berasal dari bahasa movere yang berarti bergerak atau atau to move, karena itu motivasi diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat atau merupakan driving force.”  Motivasi sebagai pendorong pada umumnya tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait-mengait dengan faktor lain.

Motivasi Guru Agung Jika berbicara tentang motivasi, kita tidak bisa melupakan perjuangan Guru Agung Buddha Gotama. Beliau hidup penuh kemewahan dan kenikmatan di dalam istana, namun beliau meninggalkan semua harta, tahta, keluarga, dan para pengikutnya. Beliau menghabiskan waktu 6 tahun di Hutan Uruvela, dekat Sungai Neranjara untuk bertapa dengan keras. Siddhattha Gotama tidak sedikitpun mengeluh, menyerah, bahkan kehilangan motivasinya untuk mencapai tujuannya (menemukan obat untuk tidak lahir, tua, sakit, dan kematian). Tidak pernah ada yang memotivasi beliau, tetapi beliau selalu semangat dalam mencapai tujuannya, ini karena beliau memiliki tujuan yang kokoh, dan fokus yang tidak berubah dari tujuan.

Kurangnya Motivasi Hidup Saat Ini Kurangnya kepercayaan diri menjadi salah satu sebab hilangnya motivasi. Hal ini disebabkan kita terlalu berfokus pada hasil. Kita takut tidak mampu mengerjakan tugas dengan baik. Kita takut hasilnya tidak sempurna. Sebagian besar kecemasan yang kita alami datang dari anggapan akan adanya kesempurnaan absolut. Apa pun bentuk kesempurnaan itu, kita cemas bahwa kita tidak mampu meraihnya. Kita terus membandingkan posisi kita dengan apa yang menurut kita ideal alias sempurna, dan menghakimi posisi kita terhadap kesempuraan tersebut.

Kita selalu membandingkan proses dengan hasil yang diharapkan. Kita terus menghakimi posisi kita terhadap goal tersebut. Akibatnya, kita minder dan cemas tidak dapat mencapai goal yang sempurna seperti yang diharapkan. Ketidakpercayaan diri itu membuat motivasi menjadi berkurang bahkan hilang.

Kita sepatutnya tidak membandingkan diri kita dengan orang lain yang lebih rendah ataupun lebih tinggi kualitasnya. Perbandingan demikian hanya membuat kita menjadi kecewa bila merasa kerdil dan sombong bila merasa tinggi. Kita sepatutnya membandingkan diri kita sendiri dengan diri kita yang lampau, artinya telah terjadi perubahan yang baik dibandingkan sebelumnya.

Cara Memotivasi Diri Sendiri.

  1. Miliki Sebuah Tujuan yang Luar Biasa. Hal yang paling dasar untuk menumbuhkan motivasi adalah kita harus memiliki tujuan. Secara tidak langsung, tujuan merupakan sumber pelecut adanya motivasi. Kita harus memilih tujuan yang benar-benar kita inginkan dalam hidup ini, dengan demikian dorongan yang menggairahkan akan timbul untuk mencapai sesuatu tersebut. Kita harus membuat tujuan yang luar biasa, karena tujuan yang biasa-biasa saja akan menimbulkan hasil yang biasa-biasa saja.
  2. Sadari Potensi Diri. Setelah kita memiliki tujuan, kita harus menyadari kekuatan diri kita. Jangan sesekali mengatakan “TIDAK BISA” dalam melakukan sesuatu, apabila kita merasa tidak mampu, itu hanya berarti kita belum mengoptimalkan potensi diri yang sebenarnya kita miliki.
  3. Tetap Fokus. Kita harus tetap fokus pada apa yang kita inginkan. Jangan tergoda pada sesuatu hal yang baru bagaimanapun menariknya. Menurut Carter, cara agar kita tetap fokus adalah dengan selalu memelihara kualitas dan mengevaluasi fokus kita. Jangan biarkan ketidakyakinan muncul kemudian. Kita mungkin kerap mengingat kegagalan-kegagalan di masa lalu namun jangan sampai hal itu menambah kekhawatiran kita. Ambil saja bahan pelajaran dari kegagalan itu dan tetap fokus pada langkah kita berikutnya. Maka, kekhawatiran itu akan hilang dengan sendirinya.
  4. Merubah Pola Pikir (Mindset) Kita harus merubah pola pikir kita untuk tidak memikirkan hasil, kita harus lebih mengutamakan proses. Jadikan setiap proses adalah suatu pencapaian kita. Dengan demikian, kita dapat menikmati proses bekerja dengan gembira. Kita yang tadinya malas, sekarang pun menjadi rajin bekerja.

Kesimpulan

Apabila kita saat ini mulai kehilangan motivasi, kita harus mengingat kembali tujuan-tujuan kita di awal. Kita bentuk tujuan itu seluar biasa mungkin, supaya kita memiliki dorongan yang besar untuk mencapai tujuan tersebut. Sadari setiap potensi yang kita miliki, serta tetap fokus terhadap tujuan kita merupakan langkah berikutnya untuk memunculkan motivasi. Pada akhirnya, kita juga harus merubah pola pikir kita yang awalnya hanya berorientasi pada hasil menjadi berfokus pada proses.

Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā

May all beings be happy.

Referensi.

http://revienda-rizky-fpsi12.web.unair.ac.id/artikel_detail-118367-Umum-Psikologi%20Umum%201%20%28%20PIMEN%20%29.html
diakses pada 20 December 2015 pk. 8.14 WIB

Sayadaw, Mingun. 2008. The Great Chronicle of Buddhas I.Ehipassiko
Foudation dan Giri Mangala Publications.

 Vijano, Win. 2013. Kita Suci DHAMMAPADA.Bahussuta Society

Leave a comment