Mampukah Kita Mengarahkan Diri Ke Arah Yang Lebih Baik?

 

Oleh Sāmaṇera Adhisarano

Hirinisedho puriso, Koci lokasmi vijjati
Yo niddam apabodheti, Asso bhadro kasamiva.

“Dalam dunia ini jarang ditemukan seseorang yang dapat mengendalikan diri
dengan memiliki rasa malu untuk berbuat jahat, yang senantiasa waspada,
bagaikan seekor kuda yang terlatih dapat menghidari cemeti”.

(Dhammapada, syair 143)

 

Apabila kita dihadapkan dengan dua pilihan yaitu menjadi orang baik atau menjadi orang jahat, manakah yang akan kita pilih ? tentu diantara dua pilihan itu,  banyak yang memilih menjadi orang baik. Tetapi, kenapa harus kejahatan yang semakin merajarela ? banyak kasus–kasus seperti tindakan kriminal yang sering kita baca, lihat, maupun kita buktikan secara langsung. Pernahkah kita merenungi dan menyadari semua itu? maka lihatlah kedalam batin kita masing–masing. Apabila kita sudah menyadari hal–hal seperti itu, hendaknya kita berpikir dalam diri kita sendiri, saya tidak mau menjadi orang yang terhina, tercela dimata banyak orang, oleh karena itu saya akan bertekad, saya harus lebih baik dari mereka–mereka yang terhina maupun tercela.

Memiliki semangat di dalam diri kita masing – masing mampu mengubah diri kita ke arah yang lebih baik, maka hendaknya hal itu dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari–hari. Apabila hal ini dimiliki oleh semua orang, tentu kejahatan–kejahatan akan berkurang di dunia ini dan kebaikan dan kebahagiaan pasti mengikuti para pembuatnya. Seperti sabda Sang Buddha yang terdapat di dalam (Dhammapada Loka Vagga:169) yang berbunyi “ jalankanlah praktik yang benar dan janganlah lalai, barang siapa yang hidup sesuai dengan Dhamma akan hidup bahagia di dunia ini maupun di dunia berikutnya “. Oleh karena itu bergegaslah ke jalan yang benar dan praktikkanlah ajaran kebenaran ini dengan benar dalam kehidupan sehari-hari.

Zaman sekarang banyak dari mereka yang melakukan pelanggaran, baik secara moral maupun spiritual. Hal ini terjadi karena kurangnya perhatian atau peran dari beberapa hal yakni:

1. Keluarga

Peran keluarga sangatlah penting dalam pembentukkan karakter anak yang dapat mengarahkan anak ke arah yang lebih baik. Apabila setiap orangtua mampu menjadi contoh dan memiliki peran dan tanggungjawab  yang baik kepada anak – anaknya, maka otomatis kemungkinan besar anak tersebut akan menjadi orang yang  baik. Oleh karena itu sang Buddha bersabda di dalam Sigalovada Sutta (D.III.31) mengenai kewajiban–kewajiban yang harus dimiliki oleh semua orang. Salah satu dari enam pasang kewajiban tersebut adalah kewajiban orangtua terhadap anaknya, yaitu mencegah anaknya melakukan kejahatan, menganjurkan anaknya melakukan hal–hal yang baik, memberikan pendidikan terhadap anak, mencari pasangan yang sesuai untuk anaknya, dan memberikan warisan pada saat yang sesuai. Oleh karena itu, dengan cara ini maka kejahatan terhadap tindakan yang tidak bermoral akan sulit dilakukan oleh seorang anak.

2. Sekolah

 Peran yang kedua adalah sekolah atau peran yang lebih luas dari keluarga, tetapi bukan berarti lebih penting dari peran keluarga, karena keluarga merupakan orang pertama yang mendidik kita hingga kita tumbuh dari anak-anak hingga dewasa. Peran kedua yang dimaksud disini adalah segala bidang yang ikut serta dalam mendidik anak tersebut, salah satu diantaranya adalah peran sekolah, peran sekolah ini juga sangat penting sekali terhadap perkembangan anak terutama kecerdasannya, seperti salah satu pepatah mengatakan “Ilmu tanpa agama bagaikan racun, sedangkan agama tanpa ilmu itu bagaikan orang lumpuh” artinya disini, jangan karena pendidikan yang tinggi, terus lupa agama, tetapi imbangilah ilmu yang kita dapat dengan nilai–nilai agama, sehingga ilmu itu akan bermanfaat bagi kita sendiri maupun orang lain. Sekarang ini banyak yang memiliki pendidikan tinggi namun tidak disertai dengan nilai–nilai agama, sehingga rasa malu (hiri) untuk melakukan kejahatan ini tidak ada padanya, maka dari itu kejahatan – kejahatan terjadi dimana–mana.

Bukan hanya tidak memiliki rasa malu untuk berbuat jahat, tetapi banyak orang yang memiliki ambisi yang mengarahkan ia bertindak yang tidak baik, demi mengumpulkan kekayaan–kekayaannya sehingga ia lupa melakukan hal–hal yang baik, seperti yang disampaikan oleh YM. Sri Paññavaro Mahathera dalam sebuah renungan, “Jangan–jangan dunia ini akan seperti rumah sakit. Di rumah–rumah sakit sekarang ini, apa saja ada. Gedungnya bagus, tamannya indah, ruangannya rapi, mewah, higienis, ada televisi, ada pendingin ruangan, kamar mandinya bagus dan bersih, tapi penghuninya orang sakit semua. Nanti dunia kita, rumah kita akan menjadi begitu. Bagus, mewah, modern. Kendaraan ada, TV ada, kulkas ada, bersih, higienis, tetapi penghuninya sakit semua. Sakit jiwa!”. Kalau orang selalu berpikir uang–uang, makan– makan, materi–materi, tetapi tidak pernah memikirkan moral, kesusilaan, cinta kasih, kehangatan, kejujuran, ketulusan; Apakah dunia kita ini tidak akan menjadi rumah sakit jiwa  yang besar?. Inilah pernyataan yang harus kita renungi dan kita jawab di dalam diri kita masing – masing.

3. Masyarakat

Peran masyarakat merupakan peran yang membantu menambah wawasan kita dan mengetahui lebih luas pengetahuan, baik ilmu pengetahuan maupun nilai–nilai agama yang berlaku diluar peran keluarga dan sekolah, dengan cara kita menggali ilmu setinggi-tingginya dan selalu diiringi dengan nilai–nilai agama yang berlaku, maka dengan hal tersebut kita mampu mengubah diri kita ke arah yang lebih baik.

Demikian dengan cara mempraktikkan dan menerapkan tiga peran ini dalam kehidupan sehari-hari, maka akan sangat terlihat perubahan di dalam diri maupun suatu bangsa tersebut. Apabila tiga hal ini mampu diterapkan di dalam diri kita masing–masing. Maka hendaknya pelanggaran sila sangat sulit kita jumpai di dalam dunia ini. Tetapi yang banyak ditemukan di kalangan masyarakat sebagai faktanya adalah tentu hal tersebut sangat sulit kita praktikkan. Namun sebenarnya sulit bukan berarti tidak bisa seperti halnya pepatah yang mengatakan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, semua itu mungkin. Jadi bisa dan tidaknya mempraktikkan dan menerapkan ketiga peran tersebut adalah berada pada kemauan dan kemampuan individu.

Sebuah renungan yang disampaikan oleh YM. Bhikkhu Saddhaviro mengenai “masa depan” yakni semua orang punya masa lalu, namun tidak semua orang memiliki masa depan, jika orang tidak menjalankan hidup dengan baik dan benar pada saat ini, akan kehilangan masa depannya. Masa lalu sudah berlalu, biarlah masa lalu itu berlalu, berusahalah tidak melekati masa lalu, namun setidaknya bisa mengambil pelajaran di masa lalu. Hidup pada saat ini, dengan terus melatih berbuat baik, dan terus memahami kebenaran, walaupun masa depan belum terjadi, orang tersebut telah menentukan masa depannya sendiri. Jadi, semoga dengan adanya artikel ini mampu mengubah pola pikir kita dan mampu memiliki pengendalian yang kuat dalam melakukan hal–hal yang tidak baik sehingga selalu di jalan yang baik dan benar. Oleh karena itu marilah kita mengunakan waktu dengan sebaik-baik mungkin, dan kita sebagai manusia hendaknya memiliki kesadaran mengenai anicca, maka dari itu jangan menunggu waktu, tetapi bergegaslah pada saat ini juga, dengan cara ini maka kita sudah melakukan hal yang baik dan benar, untuk mengubah masa depan yang lebih baik. Sebagai suatu saran kepada semua umat Buddha agar mengisi waktunya untuk belajar Dhamma, bermeditasi dan bekerja. Mengawali dengan membuat jadwal harian, lalu bertekad untuk melaksanakan dengan sebaik–baiknya, demi meraih cita–cita luhur yaitu kehidupan sejahtera, bahagia lahir dan batin, maju dan sukses dalam duniawi maupun dalam Dhamma.

“orang yang selalu mendambakan masa lalu maka orang tersebut disebut orang tua, orang yang mendambakan masa depan maka orang tersebut disebut orang muda, tetapi orang yang mendambakan masa sekarang adalah orang yang cerdas dan bijaksana”.

 

Appamadena sampadetha,
Berjuanglah dengan sungguh-sungguh.