Baik-Buruknya Perbuatan Seseorang Ditentukan Oleh Diri Sendiri

Oleh  Sāmaṇera Indasīlo

“Tañca kammaṁ kataṁ sadhu, Yaṁ katvā nānutappati
Yassa patīto sumano, Vipākam paṭisevati“

“Bila suatu perbutan setelah selesai dilakukan tidak membuat seseorang menyesal,
maka perbuatan itu adalah baik.
Orang itu akan menerima buah perbuatannya dengan hati gembira dan puas”

(Dhammapada, syair 68)

 

Banyak yang mempunyai keinginan bagaiamana supaya bisa memiliki tingkah laku yang baik, tentunya tingkah laku ini baik menurut diri sendiri, orang lain, dan oleh lingkungan masyarakat yang ada disekitarnya. Tetapi banyak orang yang tidak mengetahui caranya, dengan demikian tidak jarang di kehidupan sekarang ini banyak yang mempunyai perilaku menyimpang dari norma Agama dan norma masyarakat sekitar, sehingga menyebabkan banyak kejadian yang menimbulkan konflik dan pro-kontra antara sesama manusia. Tentunya hal demikian tidak diinginkan oleh setiap manusia, karena setiap manusia sangat mendambakan kedamaian. Jika seseorang menginginkan kedamaian, harus menjaga perilaku buruk, menanamkan perilaku–perilaku baik disetiap tingkah laku mereka, dengan demikian kedamaian akan didapatkan.

Hal ini juga sangat ditekankan oleh Sang Buddha, di dalam Kitab Suci Dhammapada yaitu, “Hendaklah ia bersikap ramah dan sopan tingkah lakunya. Karena merasa gembira dalam menjalankan hal-hal tersebut, maka ia akan bebas dari penderitaan”. Melalui kutipan ini maka bisa dilihat bahwa, Sang Buddha sangat menekankan seseorang harus bertingkah laku baik, apabila ingin terhindar dari penderitaan.

Seseorang memiliki tingkah laku baik dan buruk bisa dilihat ketika orang tersebut mendapatkan masalah, kritikan, teguran dari rekannya atau orang lain. Seperti halnya yang ada dalam Kakacupama Sutta, Majjimanikāya. Khotbah ini diberikan oleh Sang Buddha berkenaan dengan Bhikkhu Moliyaphagguna yang bersahabat dengan para Bhikkhuni. Ketika ditegur karena terlalu akrab dengan para Bhikkhuni, Bhikkhu Moliyaphagguna marah dan kemudian bertengkar dengan para Bhikkhu yang mengeritiknya, begitu juga sebaliknya Bhikkhuni yang akrab dengan Moliyaphagguna. Dari kasus yang terjadi di dalam sutta ini dapat dilihat bahwa, seseorang yang masih memiliki kemarahan, tidak mau menerima kritikan, saran orang lain, dan belum mempunyai laku yang baik dalam Dhamma, tetapi di dalam sutta ini Sang Buddha menunjukkan bahwa, mudah marah itu merugikan, dan Beliau menasihati para bhikkhu yang lain agar mereka menguasai emosi, dan tidak marah sekalipun anggota badan mereka dicincang. Seharusnya tetap mempunyai pikiran yang diliputi dengan cinta kasih terhadap semua makhluk hidup.

Bagaimana seseorang bisa mengendalikannya, bisa memilih perilaku yang baik, dengan berperilaku yang baik bisa memberi manfaat terhadap diri sendiri dan orang banyak. Baik dan buruknya tindakan tentunya ada penyebab, seperti yang dijelaskan di dalam Aṅguttara Nikāya (VI, 39) mengenai tiga penyebab bagi asal mula tindakan yang tidak bajik, antara lain keserakahan adalah asal mula tindakan, kebencian adalah penyebab asal mula tindakan, dan kebodohan penyebab asal mula tindakan. Tetapi disisi lain ada penyebab tindakan yang bajik yaitu, tanpa keserakahan adalah penyebab bagi asal mula tindakan, tanpa kebencian adalah penyebab asal mula tindakan, dan tanpa kebodohan adalalah penyebab asal mula tindakan. Dengan demikian asal mula tindakan berakar dari dua kondisi yaitu, kondisi baik dan buruk, dengan demikian baik dan buruknya tindakan seseorang tergantung pada dirinya masing – masing.

Sebagai manusia yang memiliki akal pikiran seharusnya berperilaku baik, perilaku yang baik dicerminkan dari ucapan dan tindakan seseorang. Setiap orang mempunyai cara-cara sendiri dalam berperilaku, demikain juga diterangkan dalam Aṅguttara Nikāya (IV, 165) menjelaskan tentang Empat Cara Berperilaku yaitu; cara tidak sabar, cara sabar, cara menjinakkan, dan cara menenangkan. Cara tidak sabar jika dicacimaki orang itu membalas dengan cacimaki, jika dihina dia membalas menghina, dan jika dilecehkan dia membalas melecehkan, cara yang sabar jika dicacimaki dia tidak balik mencacimaki, jika dihina dia tidak balik menghina, jika dilecehkan dia tidak balik melecehkan, cara menjinakan, tidak melekati penammpilan umum atau detail objek yang dilihat. Karena jika membiarkan kemampuan indra tidak terjaga keadaan jahat akan menyerang, penerapan pengendalian indera harus selalu dijaga, dan cara untuk menenangkan yaitu, tidak mentoleransi di dalam diri pemikiran sensual, niat jahat, kekerasan, atau keadaan lain yang jahat yang dapat muncul di dalam diri seharusnya dihancurkan dan menghilangkannya. Empat tindakan ini merupakan cerminan bagaimana seseorang berperilaku yaitu, mulai cara buruk dan baik. Tetapi jika sudah mengetahui yang baik hendaknya perilaku yang buruk ditinggalkan, meninggalkan perilaku buruk, kedamaian dalam kehidupan akan didapatkan, demikianlah tingkah laku yang sesuai dengan Dhamma.

Jika ingin memiliki tingkah laku yang sesuai dengan Dhamma tentunya banyak hal yang harus dipelajari, banyak yang harus dijadikan acuan dan pedoman untuk menumbuhkan praktik yang membawa pengembngan dalam diri seseorang seperti yang terdapat dalam Aṅgguttara Nikāya (II. 7), “Ada Dua hal sebagai Dhamma Pelindung Dunia yaitu Rasa Malu (Hiri) dan Rasa Takut (Ottapa)”. Hiri tumbuh dari dalam diri seseorang dan Ottapa datang dari pengalaman menghadapi dunia luar. Mengembangkan dua hal ini seseorang diharapkan bisa berperilaku dengan baik dimana pun berada, baik di depan orang maupun dibelakang orang, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Demikianlah yang harus dikembangkan di dalam diri, agar dapat berperilaku yang sesuai di masyarakat. Dengan demikian akan membawa kebahagiaan semua makhluk. Perilaku yang baik ini juga bisa dilihat dari moralitas seseorang, semakin moralitasnya kurang, maka perilaku baiknya kurang. Demikian jua sebaliknya, semakin moralitasnya kuat, maka perilaku baiknya juga akan semakin kuat.

Selain menumbuhkan Rasa Malu (Hiri) dan Rasa Takut (Ottapa), bisa juga merenungkan manfaat dari berperilaku baik tersebut, banyak manfaat dari perilaku baik dibandingkan dengan perilaku yang jahat. Orang yang mempunyai perilaku yang baik dijelaskan dalam khotbah-khotbah Sang Buddha yaitu; tidak adanya penyesalan, kegembiraan, sukacita, ketenangan, kebahagiaan, kosentrasi pikiran, dan pengetahuan. Beberapa keadaan yang baik ini bisa diperoleh ketika seseorang mempunyai perilkau yang bermoral atau perilaku yang baik di dalam kehidupan sehari-hari.

Dari penjelasan dan contoh – contoh yang terdapat di dalam khotbah – khotbah yang disampaikan oleh Sang Buddha, dapat dipahami bahwa, sangat dianjurkan untuk bertingkah laku sesuai dengan apa yang Beliau ajarkan atau bertingkah laku sesuai dengan Dhamma. Demikian baik dan buruk tindakan seseorang ditentukan oleh diri sendiri bukan oleh orang lain. Hendaknya sebagai manusia yang mempunyai akal dan pikiran melebihi dari makhluk lain dapat mencerminkan tingkah laku yang baik, tingkah laku yang sesuai dengan aturan, norma agama, dan masyarakat luas pada umumnya.

Referensi:

  • Cintiawati, Wena dan Lanny Anggawati. 2003. Petikan Aṅguttara Nikāya. Klaten: Wisma Dhammaguna.
  • Cintiawati, Wena dan Lanny Anggawati. 2006. Majjhima Nikāya. Klaten: Wisma Dhammaguna.
  • Vijanao, Win.2013. Kitab Suci Dhammapada. Singkawang: Bahussuta Society.