Waktunya Untuk Move On

Oleh Aṭṭhasīlani Abhayasaraṇi

Atītaṁ Nānvāgameyya, Yadatītam pahīnantaṁ

Tak sepatutnya mengenang sesuatu yang telah berlalu,
Sesuatu yang telah berlalu adalah hal yang sudah lampau

(Bhaddekaratta Sutta, Majjhimanikāya: 131)

 

Tanpa kita sadari banyak orang sebenarnya hidup di masa lalu, istilah zaman sekarang gagal move on. Kecewa, sedih, dan menderita itulah perasaan yang sering kali dirasakan oleh mereka yang hidup di masa lalu. Seseorang harus mengerti bahwa tidak ada gunanya berlarut-larut dalam masa lalu, karena masa lalu merupakan hal yang sudah lampau. Tidak ada orang yang bisa mengembalikan waktu, mengembalikan apa yang sudah hilang, dan yang bisa mengubah masa lalu. Kita tidak akan pernah bisa mendapatkan apa yang membuat kita bahagia, jika kita terperangkap dengan masa lalu. Masa lalu adalah sesuatu yang sudah kita selesaikan dan tidak ada yang perlu diubah lagi. Melekat terhadap masa lalu, hanya akan membuat hidup semakin menderita. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Guttadhammo (2012) manusia terus menerus mengembangkan kemelekatan, mengembangkan kemelekatan ini dalam seluruh hidupnya. Itulah sebabnya mengapa manusia terus menderita.  Jika ingin bahagia pergilah dan mulailah sesuatu  yang baru dan lepaskan masa lalu.

Menyikapi Masa Lalu

Masa lalu merupakan suatu bagian dari kehidupan manusia. Gunanandi Amita mengatakan bahwa masa lalu yang indah dan baik, adalah sebuah kenangan yang memberikan penjelasan tentang apa yang telah manusia lewati dengan cara yang bijak dan baik. Sebaliknya, dengan masa lalu yang tidak indah dan tidak menyenangkan, adalah kumpulan dari berbagai faktor usaha manusia yang kurang baik dan kurang bijak. Namun betapa indah dan tidak indahnya masa lalu seseorang, semua hal itu telah menjadi sesuatu yang lewat dan berlalu. Uggaseno (2015:63) dalam bukunya “Belajar Meninggalkan Keduniawian” juga mengungkapkan bahwa masa lalu terkadang indah untuk dikenang apabila itu baik dan menderita apabila hal itu selalu dirindukan.  Orang yang hanya menyesali apa yang telah terjadi, tidak akan mampu bangkit mencapai kehidupan yang lebih baik. Jadikan masa lalu sebagai sebuah pelajaran berharga dalam hidup. Namun, janganlah berduka meratapi masa lalu yang kelam. Jangan berpikir untuk kembali ke masa itu, dan berharap agar masa-masa itu tak pernah terjadi. Ini hanyalah harapan kosong, waktu akan terus berjalan dan tidak bisa di putar kembali ke belakang.

Masa lalu kita jadikan sebagai cermin kehidupan menuju arah perubahan, dengan membuat sebuah jembatan impian. Hal itu bisa tercapai apabila pondasi jembatan itu kuat dan dibuat dengan keuletan, kesabaran, rajin, jujur, dan semangat. Sehingga, sesulit apapun hidup ini akan selalu berarti, apabila kita mampu menerima proses kehidupan yang terjadi saat ini, dan tidak terlalu larut dalam lamunan masa lalu (Uggaseno, 2015:63). Sadarilah bahwa kehidupan kita sebagai manusia sangatlah singkat. Sebagaimana halnya setetes embun di penghujung sebilah rumput akan segera lenyap saat terbitnya mentari dan tak akan bertahan lama. Demikian pula kehidupan manusia laksana setetes embun. Kehidupannya pendek, terbatas dan singkat. Kehidupannya penuh penderitaan, penuh kesengsaraan. Hal ini perlu kita pahami secara bijak. Kita perlu melakukan kebaikan dan menjalani kehidupan yang murni (AN 7:70:IV 136-39). Hal demikian perlu kita pahami agar tidak terlalu larut dalam masa lalu. Dengan mengetahui bahwa kehidupan sebagai manusia itu sangatlah singkat, maka bagi mereka yang bijak akan berusaha merubah dirinya ke arah yang lebih baik.

Berani Melepaskan

Melepas masa lalu bagi sebagian orang adalah mudah, namun bagi sebagian orang juga tidak mudah. Hal ini membutuhkan usaha dan kesadaran sepenuhnya untuk memahami sifat dari segala bentuk perubahan. Sang Buddha mengajarkan kita untuk belajar melepas. Melepas bukan berarti hanya berupa benda materi saja. Namun, segala masalah, segala kesedihan, kebahagiaan dan bahkan masa lalu, itupun harus dilepaskan. Seperti yang diungkapkan oleh Paññavaro (2017 : 203) latihan melepas sangatlah penting. Jika tidak pernah berlatih melepas, maka ketika perubahan datang, batin akan tersiksa. Sebagai contoh, setiap hari kita bernapas. Pagi, siang, sore dan bahkan ketika tidur pun terus bernapas. Kita tahu bahwa bernapas adalah proses mengambil oksigen dan melepaskan CO2. Belum pernah ada orang yang bernapas kemudian tidak melepaskannya sama sekali. Apa jadinya jika tidak dilepaskan? Melepas ini sangatlah penting untuk dilakukan. Jika tidak mau belajar untuk melepaskan hanya akan membuat hidup lebih menderita. Begitu pula masa lalu harus dilepaskan, jangan menggenggamnya terlalu erat.

Dalam syair Dhammapada (Taṇhā-Vagga, 348) Sang Buddha bersabda “muñca pure muñca pacchato, majjhe muñca bhavassa pāragū” tinggalkan apa yang telah lalu, yang akan datang maupun yang sekarang. Masa lalu adalah hal yang sudah terlewati, masa yang belum terjadi disebut sebagai masa yang akan datang karena hal itu belum terjadi, sedangkan masa sekarang juga bagian dari kondisi yang akan menjadi masa lalu sehingga juga tidak layak untuk dilekati. Kemudian Sang Buddha mengungkapkan “Yassa pure ca pacchā ca, majjhe ca natthi kiñcanaṁ, akiñcanaṁ anādānaṁ, tamahaṁ brūmi brāhmaṇaṁ” orang yang tidak lagi terikat pada apa yang telah lampau, apa yang sekarang maupun yang akan datang, yang tidak memegang ataupun melekat pada apa pun juga, maka ia Kusebut seorang Brahmana (Dhp. Brāhmaṇa-Vagga, 421).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, kehidupan memiliki banyak persoalan yang harus dihadapi, dan persoalan yang paling besar adalah persoalan diri sendiri. Ada memori, emosi dan pikiran dalam diri manusia yang tidak mudah dipahami. Namun semua perjalanan hidup manusia yang saat ini adalah juga merupakan timbunan masa lalunya, dan kehidupan mereka yang akan datang adalah kumpulan usaha mereka pada saat ini. Masa lalu yang indah dan baik adalah sebuah kenangan yang memberikan penjelasan tentang apa yang telah manusia lewati dengan cara yang bijak dan baik. Sebaliknya dengan masa lalu yang tidak indah dan tidak menyenangkan adalah kumpulan dari berbagai faktor usaha manusia yang kurang baik dan kurang bijak. Namun betapa indah dan tidak indahnya masa lalu seseorang semua hal itu telah menjadi sesuatu yang lewat dan berlalu.

Referensi :

  • Bodhi, Bhikkhu. 2013. Tipiṭaka Tematik : Sabda Buddha Dalam Kitab Suci Pāḷi. Tanpa Kota : Ehipassiko Foundation.
  • Guttadhammo, 2012 .Inspirasi Kehidupan 2 .Semarang : Vihara Tanah Putih.
  • Paññavaro, Sri .2017 . Melihat Kehidupan Ke Dalam. Medan : Vihāra Mahāsampatti.
  • Pratiwi, Ika. 2017. Nasehat dan Kata Kata Bijak Menyikapi Masa Lalu Agar Tetap Semangat. http://pertamakali.com/2017/02/nasehat-bijak-menyikapi-masa-lalu.html diakses 19 Okt 2017 pkl : 08.03 am.
  • Uggaseno, Bhikkhu. 2015. Belajar Meninggalkan Keduniawian. Jakarta : Tanpa Penerbit.