Jurus Jitu Memerangi Lobha Terhadap Makanan Membawa Kedamaian

Oleh Sāmaṇera Abhisarano

Middhī yadā hoti mahagghaso ca
Niddāyitā samparivattasāyī
Mahāvarāhova nivāpapuṭṭho
Punappunaṁ gabbhamupeti mando

Jika seseorang menjadi malas, serakah
Rakus akan makanan dan suka merebahkan diri,
Sama seperti babi hutan yang berguling-guling ke sana-kemari.
Orang yang bodoh ini akan terus menerus dilahirkan

(Dhammapada, syair 325)

Bloating-after-Eating-4-750x422

 

Siapapun bisa makan

Dalam Oxford Dictionary, makan berarti, “Put (food) into the mouth and chew and swallow it.”. Hal ini tidak menjadi hal yang asing lagi bagi siapapun, karena siapapun bisa melakukannya meski belum mengetahui definisinya secara mendetail. Pada dasarnya, semua makhluk makan hanya untuk mempertahankan lebih lama kehidupannya. Akan tetapi, setiap orang memiliki kecenderungan kuantitas atau ukuran dalam hal makan yang berbeda-beda, ada yang sedikit, cukup banyak, bahkan hingga berlebihan atau tidak wajar. Hal ini disebabkan karena seseorang memiliki keserakahan atau lobha yang normal, cukup normal, hingga tidak wajar atau melampaui batasan normal.

Raja ‘Si Penggemar Makan’ dari Kosala

Dalam Doṇapaka Sutta, Saṁyutta Nikāya (III, 13), Raja Pasenadi Kosala yang memiliki nafsu makan sangat tidak wajar (seporsi nasi dan kari), setiap bertemu Sang Buddha dan mendengarkan Dhamma, Raja tertidur karena terlalu kenyang. ketika berdiam di Sāvatthī, Sang Bhagava kemudian bersabda kepada Raja, “Ketika seseorang senantiasa penuh perhatian, mengetahui kecukupan makanan yang ia makan, penyakitnya berkurang; ia menua dengan lambat, menjaga kehidupannya.”.

Raja memerintahkan brahmana muda Sudassana untuk mengingatkannya ketika sedang makan seporsi nasi dan kari dengan menghadiahi seratus kahāpaṇa setiap hari terus-menerus. Setelah Sudassana mengulang apa yang disabdakan Sang Buddha, Raja mengurangi terus menerus porsi makannya hingga semangkuk kecil nasi saja.

Dampak makan berlebihan atau tidak wajar

Dari cerita Raja Pasenadi Kosala, kita bisa mengetahui betapa berbahayanya makan dengan taraf tidak wajar atau berlebihan. Dalam Saṁyutta Nikāya (I, 30), dikatakan “Kantuk, kelesuan, kemalasan, tidak puas, ketumpulan setelah makan; karena hal ini, di antara makhluk-makhluk, jalan mulia tidak muncul.”. Secara biologis, apabila seseorang makan tidak wajar atau terlalu banyak ketika pagi atau sebelum siang hari, tubuh sibuk mencerna makanan. Karena tubuh terlalu sibuk mencerna makanan, darah yang mengalir ke otak menjadi lambat sehingga fisik terasa tidak bergairah dan mengantuk.

Berkaitan dengan pembahasan awal mengenai kesalahan makanan yang berlebihan, keserakahan atau lobha menjadi penyebab utama daripada sumber penyakit. Untuk menghambat atau mencegah timbulnya penyakit, kita harus mengurangi keserakahan atau lobha terhadap makanan sedikit demi sedikit. Tentunya bukan berarti kita mengurangi hingga tidak ada nafsu terhadap makanan, kita hanya mengurangi hingga pada tahap yang wajar dan tidak berlebihan.

Empat jurus jitu atasi lobha terhadap makanan

Karena dampak daripada makan yang tidak wajar atau berlebihan sangat mengerikan, terdapat empat jurus jitu untuk mengatasi keserakahan atau lobha terhadap makanan menurut metode buddhis, antara lain:

  1. Taṅkhaṇikapaccavekkhaṇa (Perenungan terhadap tujuan mengkonsumsi makanan)

Setiap sebelum makan, para Bhikkhu, Samanera, dan Atthasilani membaca perenungan makan, biasanya dilakukan sambil menatap makanan sebagai bahan perenungannya.

“Paṭisaṅkhā yoniso piṇḍapātaṁ paṭisevāmi

Neva davāya na madāya na maṇdanāya na vibhūsanāya

Yāvadeva imassa kāyassa ṭhitiyā yāpanāya vihiṁsuparatiyā brahmacariyānuggahāya

Iti purāṇañca vedanaṁ pațihaṅkhāmi navañca vedanaṁ na uppādessāmi

Yātrā ca me bhavissati anavajjatā ca phāsuvihāro cāti.”

“Saya, setelah merenung dengan saksama, menyantap makanan, sesungguhnya, bersantap bukan untuk bermain, bukan untuk bermabukan, bukan untuk berdandan, bukan untuk berhias, sekadar untuk beradanya dan berlangsungnya tubuh ini; untuk menghindari gangguan; demi menunjang pelaksanaan hidup luhur; dengan berpikiran, ‘Aku akan menghilangkan perasaan (sakit) yang lampau dan akan tidak menyebabkan timbulnya perasaan (sakit) yang baru.’. Dengan demikian, kelangsungan hidup, ketidaktercelaan, dan kehidupan nyaman akan dapat kuperoleh.”

(Taṅkhaṇikapaccavekkhaṇa pāțha bait kedua)

Ini merupakan hal yang baik dilakukan sebelum makan, untuk mengingatkan kita apa tujuan makan yang sesungguhnya. Dengan memahami tujuan sebenarnya, rasa keinginan yang berlebihan terhadap makanan dapat berkurang, atau makan sewajarnya dalam taraf normal (tidak berlebihan dan kekurangan). Sesungguhnya hal ini tidak hanya untuk para Pabbajita saja, para perumahtangga juga bisa mempraktikkannya. Tentunya, makan dengan taraf normal atau sewajarnya tidak membuat fisik terbebani (overload). Menurut penelitian di Jepang, para ilmuwan di Osaka University mengungkapkan bahwa kebiasaan tidak mengisi perut di pagi hari bisa meningkatkan risiko stroke sebesar 30% (Detik.com 23 Februari 2016).

            Dalam suatu Majalah Buddhis, memuat beberapa hal mengenai jadwal kinerja tubuh, antara lain:

  1. Lambung bekerja ketika pukul 07.00-09.00

Pada waktu ini, kita seharusnya sarapan secukupnya. Karena sarapan yang berlebihan dapat memberatkan kerja jantung.

  1. Limpa bekerja ketika pukul 09.00-11.00

Pada waktu ini, fungsi limpa yang lemah ditandai melalui kantuk yang melanda. Untuk mengatasinya, kita harus melakukan beberapa aktivitas yang cukup membutuhkan energi untuk memperlancar kinerja tubuh.

Sesungguhnya, makan dengan tidak wajar dan tidak teratur bukan hanya menyebabkan stroke, berbagai penyakit akan timbul misalnya kolestrol, diabetes, dsb. Untuk itu, kita sepatutnya makan dengan jalan tengah (middle way) yaitu dengan makan tidak berlebihan maupun tidak kekurangan. Di samping itu, ini metode ini dapat membantu kita mengurangi keserakahan atau lobha terhadap makanan yang tidak wajar.

  1. Āhāre Paṭikūla Saññā (Perenungan terhadap makanan yang menjijikan)

Perenungan terhadap makanan yang menjijikan merupakan salah satu dari empat puluh objek meditasi ketenangan batin (Samatha Bhavana). Metode ini sangat relevan dipraktikan bagi siapapun untuk mengurangi rasa keserakahan atau lobha terhadap makan. Makanan yang awalnya indah diproses sedemikian rupa oleh organ tubuh secara alami menjadi tidak indah. Kita bisa merenungkan ketika makanan masuk melalui satu lubang yaitu mulut, hingga keluar melalui Sembilan lubang yang ada pada tubuh kita, yaitu mata, hidung, telinga, mulut, kemaluan, anus bahkan keringat dari pori-pori kulit. Tentunya, hal ini sangat tidak menyenangkan. Dengan memahami proses pencernaan makanan dalam tubuh yang begitu menjijikan dan tidak memuaskan, membuat seseorang cenderung jenuh terhadap makan yang berlebihan. Dengan kejenuhan itu, seseorang akan mengurangi sedikit demi sedikit makanan yang akan dikonsumsinya, sehingga pada satu ketika taraf makanan yang dikonsumsinya dalam batasan normal.

  1. Catu Dhātu vavatthāna (Analisis empat unsur pokok dalam makanan)

Dalam makan terdapat empat unsur materi yang pokok, yaitu:

  1. Pathavi-dhatu (unsur tanah atau unsur padat), ialah segala sesuatu yang bersifat keras atau padat.
  2. Apo-dhatu (unsur air atau unsur cair), ialah segala sesuatu yang bersifat berhubungan yang satu dengan yang lain atau melekat.
  3. Tejo-dhatu (unsur api atau unsur panas) ialah segala sesuatu yang bersifat panas dan dingin.
  4. Vayo-dhatu (unsur angin atau unsur gerak) ialah segala sesuatu yang bersifat bergerak.

Meskipun ini merupakan objek meditasi, kita tetap bisa mempraktikkanya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika kita memakan nasi, beserta sayur berkuah dan dilanjutkan dengan makan es krim, kita bisa merenungkan perubahan yang terjadi pada makanan tersebut. Dengan merenungkan mendalam, kita dapat memahami bahwa nasi hanyalah unsur padat yang berubah terus menerus menjadi semakin halus, sayur berkuah juga demikian hanya merupakan unsur padatan dari sayur dan unsur cair dari kuah tersebut. Begitu juga dengan es krim, kita merasakan es krim dingin dan padat di awal, kemudian dingin tersebut memudar dan menjadi cair.

Apabila kita mau memperhatikan dan merenungkan lebih jelas dan mendalam tentang unsur-unsur dalam makan, kita menjadi paham bahwa hanya ada empat unsur pokok dalam makanan. Dengan kita memahami hal ini, kita menjadi jenuh terhadap makan berlebihan karena bersifat tidak memuaskan, rasa enak yang dirasakan di awal tidak sama ketika makanan masuk ke tubuh.

  1. Mettā (Memancarkan Cinta kasih), ‘Be a Vegetarian

Mettā merupakan salah satu komponen daripada empat sifat luhur. Akan tetapi, kita terkadang hanya tahu runtutan dari empat komponen tersebut, tidak benar-benar mempraktikkannya atau hanya sekadar mengucapkan. Padahal, kita bisa mempraktikkan cinta kasih atau Mettā untuk mengurangi keserakahan kita terhadap makanan yang berasal dari makhluk hidup.

Memang secara jelas, dalam Culavagga Pali, Vinaya Pitaka, Sang Buddha tidak menyetujui permintaan atau usulan dari Devadatta bahwa para Bhikkhu diharuskan tidak memakan daging. Sang Buddha bersikap fleksibel terhadap hal ini dengan tidak memberi larangan makan daging, juga larangan makan sayur-sayuran. Akan tetapi, jika kita memiliki cinta kasih terhadap semua makhluk khususnya hewan, kita dapat mengurangi atau bahkan tidak mengkonsumsi makanan yang berasal dari hewan. Ini merupakan praktik cinta kasih yang nyata dan baik dalam kehidupan sehari-hari. Secara tidak langsung apabila kita tidak memakan daging, kita memberikan kehidupan lebih lama kepada makhluk lain dan mengurangi penderitaan makhluk lain.

Di zaman Sang Buddha, para kaum bangsawan dan raja tidak memakan daging, karena mereka menanggap daging bukan makanan yang mewah. Mereka justru lebih menikmati makan sayur atau menjadi seorang vegetarian, karena pada masa itu sayur yang menjadi makanan mahal dibandingkan daging.

“I’ve found that a person does not need protein from meat to be successful athlete. in fact, my best year of track competition was the first year I ate a vegan diet.” (Carl Lewis)

Praktik memakan sayur atau menjadi vegetarian merupakan salah satu upaya untuk mengurangi rasa keserakahan atau lobha yang berlebihan terhadap makanan. Menyadari keuntungan dengan tidak memakan daging, kita sepatutnya merubah pola makan kita menjadi seorang vegetarian.

Keempat metode ini membuat keserakahan kita menjadi lebih berkurang terhadap makanan dan kita bisa mendapatkan kenyamanan fisik dan kedamaian batin setelah mempraktikkannya.

Kesimpulan

Makan merupakan salah satu kebutuhan semua makhluk untuk mempertahankan kehidupannya. Makan yang disertai keserakahan atau lobha membuat pola makan kita menjadi tidak wajar dan berlebihan. Makan yang berlebihan membuat kinerja tubuh menjadi tidak stabil atau lemah (mengantuk) serta dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Mengetahui bahayanya makan dengan keserakahan, terdapat empat jurus untuk mengatasi keserakahan, yaitu dengan Perenungan terhadap tujuan mengkonsumsi makanan (Taṅkhaṇikapaccavekkhaṇa), Perenungan terhadap makanan yang menjijikan (Āhāre Paṭikūla Saññā), Analisis empat unsur pokok dalam makanan (Catu Dhātu vavatthāna), Memancarkan cinta kasih (Mettā) dengan  ‘Be a Vegetarian’. Dengan mempraktikkan keempat metode ini, keserakahan terhadap makanan akan menjadi berkurang dan terus berkurang hingga taraf normal. Oleh karena itu, seseorang dapat merasakan kedamaian dari makan dengan kuantitas dan jenis makanan yang wajar.

Referensi:

  • Bodhi. 2010. Saṁyutta Nikaya Sagāthāvagga. DhammaCitta Press: Jakarta.
  • Dewi, Metta. Pengertian, Faedah, dan, Cara melaksanakan Bhavana. http://www.samaggi-phala.or.id.
  • Rasyid, Teja SM. 1993. Kitab Suci Vinaya Pitaka I. Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Buddha dan Universitas Terbuka: Jakarta.
  • Vijano, Win. 2013. Kitab Suci Dhammapada. Bahussuta Society: Tanpa kota.