Upacara Pattidana

Rabu, 04 April 2018. Vihara Padepokan Dhammadipa Arama Batu melaksanakan upacara Pattidāna. Acara yang digelar setiap satu tahun sekali ini dimulai pada pukul  18.00 WIB dan dihadiri oleh 7 Bhikkhu anggota Sangha Theravāda Indonesia, yakni; Bhikkhu Khantidharo Mahatera, Bhikkhu Jayamedo, Bhikkhu Khemmadharo, Bhikkhu Silanando, Bhikkhu Sakkadhammo, Bhikkkhu  Uggaseno dan Bhikkhu Gunajayo, para Samanera dan Atthasilani.
Dalam acara tersebut masing-masing Bhikkhu memiliki tugas, Bhikkhu uggaseno bertugas membacakan Devatā-āradhana dan memimpin pembacaan Paritta Pencerahan dan Tirokudda Sutta. Bhikkhu Khemmadharo  bertugas untuk memberikan Pancasīla āradhana. Bhikhu Silanando dan Bhikkhu Gunajayo bertugas untuk melakukan pemecikan tirta paritta, sedangkan Bhikkhu Jayamedo bertugas untuk membawakan ceramah Dhammadesana.
Beliau menguraikan tentang pengertian Pattidāna. Pattidāna dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Misalnya saja di wilayah jawa, ketika bulan Suro atau pas selamatan perkawinan biasanya semua orang melakukan persembahan kepada leluhurnya, karena bulan Suro dianggap suci dan hal ini juga dipengaruhi oleh adat yang turun temurun. Sang Buddha mengajarkan agar semua manusia dapat mengingat para leluhurnya. Hal ini juga terdapat dalam Tirokudda Sutta.
Terdapat sebuah kisah bahwa di zaman Sang Buddha ada seorang Raja yang mana ketika merayakan pesta ia tidak mempersembahkan makanan untuk para leluhurnya sehingga ketika malam ia diganggu oleh makhluk-makhluk yang tidak terlihat. Dimana diluar istananya sangat berisik sekali. Oleh karena itu ketika sedang merayakan sebuah pesta dengan teman-teman ataupun kerabat hendaknya sebelum pesta itu dimulai kita dapat membacakan doa atau memberikan makanan untuk mereka. Karena kita tidak tahu pasti, apakah mereka datang atau tidak. Ketika ada makhluk di alam menderita maka mereka akan otomatis datang ke acara Pattidana. Pattidāna dapat dilimpahkan kepada semua makhluk disekitar kita. Karena ada makhluk-makhluk yang berhubungan karma dengan kita, oleh karena itulah persembahkanlah jasa-jasa bajik kepada mereka yang telah meninggal maupun yang masih hidup.
Saat sekarang ini hal yang paling penting adalah menggunakan waktu dengan sebaik mungkin untuk membantu orang lain. Salah satunya adalah menyokong 4 kebutuhan pokok bagi para Bhikkhu. Apabila orang tua kita masih hidup maka  merawat orangtua adalah hal yang sangat mulia. Beliau mengatakan bahwa ketika orang sudah tua makanan paling enakpun terasa tidak enak, maka merawat orang tua adalah hal yang paling mulia. Namun, apabila orangtua telah meninggal dunia maka Pattidāna dapat membantu mereka dengan cara pelimpahan jasa. Dengan begitu kita dapat membantu orangtua, sanak saudara dan leluhur-leluhur kita yang telah meninggal agar dapat terlahir di alam bahagia. Bhikkhu Jayamedo juga mengatakan bahwa “kita ada, besar, dan bisa disini, menjadi orang baik adalah berkas jasa-jasa dari para leluhur, oleh sebab itu maka kita juga hendaknya dapat membalas jasa bajik mereka dengan melakukan pattidāna”.
Semoga Semua Makhluk Berbahagia.
Oleh: A. Dhammasarani