Profil Bhikkhu Khantidharo Mahāthera

YM. Khantidharo Mahāthera lahir di Desa Pakis, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada tanggal 17 Juli 1931 dari pasangan Bakir Setjodiharjo dan Sumini. Keduanya beragama Islam. Oleh orang tuanya beliau diberi nama Djamal Bakir. Djamal artinya ‘bagus’. Sementara Bakir di akhir namanya diambil dari nama depan ayah kandungnya, yakni Bakir. Beliau memiliki empat orang kakak dan lima orang adik.

Beliau mengawali pendidikan dasarnya secara informal yakni dididik langsung oleh ayah kandungnya karena ayahnya adalah seorang guru.
Pengalaman yang pertama setelah lulus SMA Negeri di Magelang tahun 1952 adalah menjadi guru SMEPN (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama Negeri) di Medan. Kemudian beliau menempuh pendidikan lanjutan BI di kota Solo Jawa Tengah tahun 1954. Dengan bekal pendidikan itu beliau mengabdikan dirinya sebagai seorang pendidik makin kokoh. Salah satunya adalah menjadi guru SMEAN (Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri) di Gorontalo tahun 1956. Tahun 1958 beliau diangkat sebagai kepala sekolah SMEAN (Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri) Gorontalo sampai tahun 1961. Beliau pindah ke kota Malang untuk melanjutkan pendidikan di FKIP (Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan) dari Universitas Negeri Erlangga Surabaya, sekarang menjadi Universitas Negeri Malang selama 2 tahun dan meraih gelar Drs pada tahun 1963.
Setelah menamatkan pendidikan tingginya beliau ditugaskan sebagai guru di SMEA Negeri Malang. Jadwalnya mengajar di SMEAN Malang berlangsung di sore hari, karena belum punya gedung sendiri. Sementara pagi harinya beliau bekerja di Bank Umum Bantu di kota Malang. Dengan pangkat terakhir sebagai direktur Bank Umum Bantu.
Saat tinggal di kota Malang itulah, beliau mengenal Buddha Dhamma dengan cara yang unik. Awalnya beliau berkenalan dengan Romo Pandita Mujono yang suka membaca buku cerita Buddhis. Oleh beliau ditanya demikian, ‘Romo Pandita sedang baca apa?’ yang dijawab oleh Romo Mujono dengan menunjukkan buku cerita Buddhis yang dibacanya. Buku cerita Buddhis itu, kemudian beliau pinjam dan baca. Dari situlah ketertarikannya dengan Buddha Dhamma mulai muncul. Beliau melakukan pencarian lanjutan ke tempat-tempat yang sesuai, salah satunya dengan membeli buku-buku Dhamma ke salah satu penerbit buku-buku agama Buddha di kota Surabaya. Boleh dikatakan pengalamannya mengenal cerita-cerita Buddhis dari Romo Mujono sebagai pengalaman spiritual beliau yang pertama mengenal Buddha Dhamma.

Merintis Berdirinya Beberapa Vihara di Daerah Malang
Kegiatan menyebarkan Dhamma di mulai dikalangan pelajar dan mahasiswa di kota Malang dengan memberikan pelajaran kepada anak-anak yang beragama Buddha dari berbagai sekolah. Selanjutnya mengadakan kebaktian rutin tiap hari minggu di Kelenteng Eng An Kiong di kota Malang. Selanjutnya mulai dirintis berdirinya vihara-vihara pada tahun 1970 di Kabupaten Malang antara lain : Vihara Buddharakita di Sukoramai Dampit, Vihara Buddharatana di Ampel Gading, Vihara Mudita Karuna di Jati Guwi Sumber Pucung, Vihara Padepokan Dhammadīpa Ārama di Mojorejo Batu, Vihara Budhi Paramita di Njeding Junrejo batu, Vihara Saddhaphala di Bojong Indah Jakarta.
Kegiatan di bidang organisasi adalah menjadi ketua Perbudhi (Perhimpunan Buddhis Indonesia) di Malang yang kemudian berubah menjadi Mapanbudhi (Majelis Pandita Buddha Dharma Indonesia) yang kemudian menjadi Magabudhi (Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia).
Sebagai seorang pendidik beliau menerbitkan juga majalah Pancaran Dhamma (1970 – 1977) dan buletin Kursus Tertulis pendidikan guru Agama Buddha selama 2 tahun yang terbit 2 bulan sekali. Diantara pengikut khusus ada yang kemudian menjadi guru Agama Buddha di Medan, Jambi, dan Bali.
Pengalaman spiritual kedua yang semakin mendekatkan beliau dengan Buddha Dhamma adalah saat bertugas sebagai kepala sekolah di Myammar selama 5 tahun (1977 – 1982). Di bawah adalah sepintas kisah beliau saat bertugas di sana.

MENJADI BHIKKHU SEMENTARA DI MYANMAR:
Pada tahun 1977 Djamal Bakir ditugaskan sebagai kepala sekolah di SD, SMP dan SMA Sekolah Indonesia Duta Taruna (SIDT) di Myanmar. Ini adalah sebuah sekolah Indonesia yang para muridnya seluruhnya berkewarganegaraan Indonesia yang dikelola oleh KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia). Jumlah mereka tak lebih dari 120 orang. Pengalaman unik, karena para murid itu ada yang hanya dua atau lima orang dalam satu kelas. Meski statusnya sebagai kepala sekolah beliau pun bertugas mengajar beberapa mata pelajaran.
Selama bertugas di Myanmar Bapak Djamal Bakir memanfaatkan waktu luangnya dengan mengunjungi para bhikkhu di vihara-vihara besar, juga pergi ke tempat-tempat meditasi Buddhis yang terkenal di negara tersebut. Salah satunya Mahasi Sayadaw Meditation Center. Pengalamannya mengunjungi vihara, selain berwisata religius ke sejumlah tempat bersejarah, membuat beliau tertarik untuk menjalani hidup sebagai seorang samana, meski untuk sementara waktu.
Kesempatan itu tiba di penghujung tahun 1981 ketika sekolah libur. Ketika libur sekolah itulah beliau memutuskan untuk menjadi bhikkhu sementara yang dilakoninya di Chanmiyay Yeiktha Meditation Center. Saat pertamakali menggunakan jubah bhikkhu Djamal Bakir menyentuh jubahnya dengan perasaan gembira yang tidak terduga. Seolah sesuatu yang telah lama dicita-citakannya terkabul pada akhirnya. Pastinya selama menjalani hidup kesamanaannya selama tiga minggu itu beliau melaksanakan meditasi Vipassana di bawah bimbingan Sayadaw U Janaka Bhivaṁsa atau lebih dikenal sebagai Chanmiyay Sayadaw.
Sepulangnya dari Myanmar beliau mengabdikan diri pada perkembangan Agama Buddha Dhamma di Indonesia, dengan tidak mengabaikan tugas-tugas pokoknya di bidang pendidikan. Beliau bekerja di Inspekturat Jendral Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1982 – 1987 dengan pangkat terakhir sebagai Inspektur Pembantu Pendidikan Menengah.

Menjadi Bhikkhu
Saat memasuki MPP (Masa Persiapan Pensiun) di tahun 1986 tercetus lagi dalam benak beliau untuk melanjutkan hidup kesamanaan alias menjadi bhikkhu. Kali ini tidak dimaksudkan untuk menjadi bhikkhu sementara. Melainkan selama sisa hidupnya. Ide besar ini diungkapkannya kepada sang istri, ibu pandita Dharmaniyani Sri Hartini, dengan kalimat permohonan ini, “Mumpung tenaga masih bisa digunakan untuk mengabdi pada masyarakat yang lebih luas.”
Luar biasanya adalah ibu Sri Hartini yang selalu mendukung kiprah Djamal Bakir selama mengabdi kepada Buddha Dhamma di tanah air hanya membutuhkan waktu lima menit untuk memberikan ijinnya. Ijin tertulis yang ditandatangani di atas materai oleh ibu Sri Hartini itu semakin memuluskan jalan beliau untuk menjadi seorang bhikkhu. Jalan yang panjang menuju perjalanan pelepasan keduniawian. Meski ide itu sebenarnya tercetus pertamakalinya di tahun 1967 silam.
Pada tanggal 6 Desember 1987 beliau diupasampada di Vihara Dhammacakka Jaya, Jakarta, dan diberi nama bhikkhu Khantidharo. Khantidharo artinya yang selalu menjaga kesabaran. Awalnya beliau ditempatkan di Vihara Dhammacakka Jaya sebelum dipindahtugaskan ke Vihara Dhammadipa Arama, Batu, Jawa Timur, di akhir tahun 1992 silam dengan status sebagai kepala vihara yang dijabatnya sampai hari ini.

Membenahi Padepokan Dhammadīpa Ārama
Sejak bertugas di Padepokan Dhammadīpa Ārama tahun 1992 bhante khantidharo secara terus-menerus aktif membenahi bangunan Padepokan Dhammadīpa Ārama antara lain :
1. Tahun 1996 diresmikan gedung Bhavana Sabha sebagai tempat meditasi.
2. Tahun 1997 dibangun Reclining Buddha sepanjang 9,4 m.
3. Tahun 1998 diresmikan gedung Uposatthagara sebagai tempat penahbisan atau upasampada para Bhikkhu.
4. Tahun 2000 diresmikan gedung Museum Dhammadasa yang berarti “Cermin Dhamma” diharapkan orang yang berkunjung bisa melihat Dhamma secara visual.
5. Tahun 2003 diresmikan gedung Patirupaka Shwedagon Pagoda dan Dapur serta Ruang Makan.
6. Tahun 2006 diresmikan gedung Graha Kertarajasa sebagai tempat pertemuan serbaguna.
7. Tahun 2007 diresmikan gedung Dhammasala Lumbini serta renovasi Dhammasala Veluvana yang dibangun tahun 1976, serta Renovasi Kantor, Bursa dan Sekolah Minggu Buddhis.
8. Tahun 2008 diresmikan gedung STAB KERTARAJASA yang banguannya tingkat tiga dengan 15 ruang kelas.
9. Tahun 2010 diresmikan gedung Saddha Devi sebagai asrama para Aṭṭhasīlni yang memuat 30 orang.
10. Tahun 2012 diresmikan gedung Rahula sebagai asrama Para Samanera yang memuat 40 orang.
11. Kemudian mengatur taman-taman di lingkungan vihara antara lain :
a. Taman Dhammapada di halaman depan.
b. Relief kehidupan pemuda Sumeddha bertemu dengan Buddha Dipaṅkara sampai 4 peristiwa penting kelahiran pangeran Siddhartha sampai menjadi Buddha dan Parinibbana.
c. Dibangun Air Mancur Gajah Mada.
d. Taman Rusa Isipatana.
12. Dibangun Pagar Pengaman keliling vihara yang hingga saat ini belum selesai.
Status Padepokan Dhammaīpa Ārama saat ini :
1. Sebagai tempat Puja Bakti pagi dan sore setiap hari.
2. Sebagai pusat Latihan Meditation Center.
3. Sebagai pusat pendidikan Agama Buddha.
4. Sebagai Pondok Pesantren Buddhis yang saat ini sekitar 100 orang terdiri dari : para Bhikkhu, Samanera dan Aṭṭhasīlani.
5. Sebagai pusat wisata religius yang banyak dikunjungi para turis dari berbagai daerah diseluruh nusantara dan turis mancanegara.
Para calon samanera/aṭṭhasīlani itu datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti dari Halong (Kalimantan Selatan), Pontianak, dari beberapa desa Buddhis di pulau Lombok, dari kabupaten Banyuwangi, Malang, Blitar, Ponorogo, Jepara, Lampung, sampai Luwuk, di Sulawesi Selatan. Sedemikian beragamnya tempat asal dan bahasa asli para samanera/attasilani ini sehingga bisa dikatakan bahwa Bhante Khanti telah membangun komunitas Indonesia mininya sendiri di Ngandat (Ngandat adalah dukuh tempat vihara ini terletak).
Karena kiprahnya yang tak kenal henti sebagai bhikkhu sekaligus Dhammaduta pemerintah Myanmar memberinya gelar “Aggamaha Saddhamma Jotikandhaya” yang artinya “Panji cahaya dhamma sejati nan agung dan utama”. Penganugerahan gelar itu berlangsung di Myanmar di tahun 2004 dihadiri oleh Saṅgha Raja Myanmar.