Belajar Dhamma dari Kerendahan Hati

Khantī ca sovacassatā
etaṁ maṅgalamuttamaṁ
“sabar, mudah dinasehati, itulah berkah utama”
(mangala sutta, bait 9)

Bumi ini sebagian besar dipenuhi oleh manusia yang memiliki kecerdasan dan tingkat intelektual yang tinggi. Hal itu dibuktikan dari lahirnya ilmuwan-ilmuwan terkenal, para pemimpin yang terkemuka dan masyarakat yang sudah menuju peradaban modern. Namun pada dasarnya intelektual atau kecerdasan tersebut tidak dapat menjamin kualitas batin seseorang. Tingginya intelektual biasanya hanya membuat seseorang lupa bahwa sebenarnya tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Sehingga sangat sulit menerima masukan atau kritikan dari orang lain. Mereka beranggapan bahwa apa yang telah dilakukan dan diperbuat itu adalah sepenuhnya benar, karena mereka adalah orang yang memiliki intelektual tinggi. Semua manusia, kecuali Buddha cenderung melakukan kesalahan. Oleh karena itu, kita harus siap mendengarkan orang lain agar dapat belajar hal-hal yang belum diketahui untuk kemajuan diri sendiri.

Secara naluriah manusia akan membela diri ketika mendapat sebuah “serangan”, entah itu berbentuk sikap fisik maupun lisan. Maka, begitu pula halnya ketika orang mendapatkan sebuah kritikan atau masukan yang terkadang dianggap sebagai serangan. Orang cenderung semaksimal mungkin membela diri. namun, disisi lain ada pula orang yang menyepelekan dan mengabaikan suatu masukan atau kritikan itu. Manusia diharapkan menjadi orang yang mempunyai sifat rendah hati, karena hanya dengan kerendahan hati inilah seseorang dapat menerima kritikan maupun masukan dengan pikiran yang tenang dan positif. Dalam ajaran Buddha kerendahan hati ketika diperingatkan disebut dengan sovacassata yang merupakan salah satu berkah utama. Arti yang diberikan di dalam kitab komentar adalah “orang yang dapat dengan mudah disapa, diajak bicara atau dinasihati” dan kata ini lebih jauh lagi berarti “orang yang dapat dikoreksi”.

Kitab komentar mengatakan bahwa seseorang yang menurut ketika dikoreksi memiliki kesempatan untuk belajar dhamma, yang mana merupakan kebalikkan dari seseorang yang “sulit diajak bicara”. Orang yang sulit diajak bicara biasanya senang memutarbalikkan fakta, kebisuan atau memikirkan tentang kebajikan-kebajikan dan kejahatan-kejahatan. Memutar-balikkan fakta hanyalah nama lain dari berbohong yang lebih indah, dan merupakan metode yang digunakan oleh beberapa orang ketika mereka ditegur atau diperingatkan. Cara lainnya adalah dengan diam sambil cemberut, sementara cara yang ketiga adalah menyalahkan si pemberi saran dengan menyebutkan kesalahan-kesalahan yang dimiliki si pemberi saran atau dengan memuji kebajikan-kebajikannya sendiri. Orang-orang seperti ini sangatlah sulit untuk dilatih dan diajak bergaul atau dijadikan sahabat.

Orang yang rendah hati layaknya seekor kuda yang dibesarkan dan dididik dengan baik, yang dapat diberitahu hanya dengan sentuhan lembut dan tidak seperti binatang yang keras kepala yang mana hanya dapat diberitahu dengan perlakuan kasar. Orang semacam ini adalah orang yang dididik dan dibesarkan dengan keluasan dan keterbukaan sudut pandang, kemampuan untuk langsung menerima nasihat yang baik dan terbiasa untuk menjaga kesopanan dalam tata krama dan ucapan.

Manfaat dari Kerendahan Hati

Pribadi yang rendah hati biasanya justru memandang bahwa orang lain memiliki keunikan dan keistimewaan, sehingga senantiasa membuat orang lain merasa penting. Setiap orang adalah spesial, unik, dan berhak untuk dihargai. Manusia adalah pribadi yang harus diperlakukan khusus. Manusia adalah makhluk yang sangat sensitif. Jika kita meragukan hal ini, lihat diri kita sendiri dan perhatikan betapa mudahnya kita merasa disakiti atau tersinggung. Orang yang Rendah hati akan membahagiakan hati orang lain. ”Kalau dia seorang bapak, keluarganya akan menghormatinya dengan tulus. Kalau seorang ibu, anak-anaknya tentu akan senantiasa merindukannya. Kalau seorang pemimpin, tentu akan menginspirasi hati sekalian rakyatnya”. Ciri manusia rendah hati lainnya adalah senantiasa berani mengakui kesalahan dan meminta maaf jika melakukan kesalahan atau menyinggung perasaan orang lain.

Rendah hati bukan berarti merendahkan diri dan menutup diri melainkan secara aktif mendengarkan, berbagi, dan berempati sehingga terjalin hubungan harmonis dua arah. Selain itu, manfaat yang didapat dari kerendahan hati adalah kita dapat belajar Dhamma secara tidak langsung dan dapat mengembangkan kualitas batin. Mengapa demikian? Bahwasanya sebuah kebenaran bisa berasal dari siapapun, dimanapun dan kapanpun. Tidak selalu sebuah kritikan dan masukan itu buruk, tidak selalu mereka yang menyampaikan kritikan dan masukan itu berniat menjatuhkan. Selama sebuah kritikan itu bersifat konstruktif, maka tak mengapa ia disampaikan. Hanya saja, seseorang perlu mencernanya terlebih dahulu dengan kepala dingin dan tidak emosi untuk menemukan sebuah “hal yang berharga” atau bisa disebut dengan Dhamma.

Mengapa berharga? Adanya kebenaran yang terdapat di dalam masukan dan kritikan tersebut, menjadi suatu modal penting untuk perbaikkan diri menjadi lebih baik lagi. Terlebih kerendahan hati menjadi salah satu syarat utama seorang pemimpin, karena hanya dengan kerendahan hati ia mampu memahami permasalahan yang dipimpinnya. Apabila tidak mampu menjadi pemimpin untuk orang lain setidaknya mampu menjadi pemimpin bagi diri sendiri.

Cara Menumbuhkan Rasa Kerendahan Hati

Pada kenyataannya sifat kerendahan hati memang sulit dikembangkan di dalam diri setiap orang. Namun, walaupun demikian seseorang harus berusaha mengembangkan dan memupuk sifat kerendahan hati ini. Hanya dengan menjalankan dan mempraktekkan Dhamma di dalam kehidupan sehari-harilah, seseorang akan memiliki sifat kerendahan hati dalam dirinya. Mengapa bisa demikian? Karena orang yang menjalankan Dhamma secara benar di kehidupannya, sudah pasti ia akan memiliki kualitas pribadi yang baik dan diidentikkan dengan kepatuhan dan kemampuan mendengarkan pendapat dan nasihat yang membangun serta bermanfaat. Selain itu, juga bisa melaksanakan meditasi secara rutin di dalam kehidupannya. Karena melalui meditasi lah seseorang bisa melihat ke dalam diri sendiri, apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan dirinya. Sebagai siswa Buddha yang baik, sudah sepatutnya kita belajar untuk menumbuhkan sikap rendah hati di dalam diri kita, agar kita dapat belajar Dhamma dan meningkatkan kualitas batin kita untuk menghadapi tantangan hidup yang semakin sulit.

Oleh Aṭṭhasilāni Indāvati

Referensi:
Ven. Weragoda Sarada. 1997. Mahā Maṅgala Sutta. Jakarta: vihāra Jakarta Dhammacakka Jaya.

Tinggalkan Balasan