Indahnya sebuah kerukunan

“Pare can a vijjananti, 

Maya mettha yamama se, 

Ye ca tattha vijananti, 

Tato sammanti medhaga”

artinya :

“Sebagian orang tidak mengetahui bahwa

Dalam pertengkaran mereka dapat binasa,

Tetapi mereka yang dapat menyadari

Kebenaran ini akan segera mengakhiri pertengkaran”

(Dhammapada Yamaka Vagga, Syair VI)

Manusia dilahirkan tidak untuk menyendiri, tidak untuk saling menyakiti atau saling membenci melainkan untuk hidup saling melengkapi, saling menolong dan berdampingan seperti nasi dan kari, artinya hidup dengan damai. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan orang lain. Mengapa demikian? Karena manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, baik sandang, pangan maupun papan. Kehidupan manusia akan hancur apabila mereka tidak memiliki rasa toleransi dengan manusia lainnya terutama bagi mereka yang berbeda latar belakang. Oleh karena itu, rasa toleransi dengan sesama manusia harus tumbuh dan hidup di dalam hati setiap manusia.

Upaya yang dapat ditempuh dalam rangka menuju terciptanya kerukunan yaitu dengan meningkatkan moral. Selain menjaga diri dengan Sīla, kita dapat mengembangkan kesempurnaan-kesempurnaan (Pārāmita). Sang Buddha bersabda dalam Dhammapada syair 6 “Mereka tidak tahu bahwa dalam pertikaian mereka akan hancur dan musnah, tetapi mereka yang melihat dan menyadari hal ini damai dan tenang”. Sumber dari perpecahan juga dijelaskan dalam Dhammapada syair 5 “Di dunia ini kebencian tidak pernah berakhir jika dibalas dengan membenci, tetapi kebencian akan berakhir jika dibalas dengan cinta kasih”. Dari kutipan itu dengan jelas diungkapkan bagaimana akibat dari pikiran yang jahat bagi umat manusia. Oleh karena itu, diperlukan kedewasaan berpikir, berkata dan bertindak. Dasarnya yaitu Hiri (perasaan malu untuk berbuat jahat dan Ottapa (rasa takut akan akibat perbuatan jahat). Dua dasar tersebut adalah Lokapala Dhamma atau Dhamma pelindung dunia.

Sehubungan dengan hal itu, kita hendaknya selalu menjadikan ajaran-ajaran Sang Buddha sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan ini. Kita ketahui bahwa kita hidup ditengah masyarakat yang berbeda dan seringkali perbedaan itu menimbulkan pertentangan. Pertentangan akan menimbulkan ketidakrukunan baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Selama kita menuntut orang lain seperti apa yang kita inginkan selama itu pula kita tidak bisa merasakan kerukunan, terutama rukun terhadap diri kita sendiri dan juga akan timbul masalah dalam diri kita sendiri. Selama kita menginginkan seekor kuda bisa berkokok seperti ayam, selama itu pula kita akan menderita. Kita tidak bisa merubah sifat orang lain, tetapi yang perlu kita rubah adalah diri kita sendiri. Kita sendirilah yang harus beradaptasi dengan orang lain. Oleh karena itu, di dalam proses kehidupan manusia diperlukan pemahaman bagaimana cara hidup rukun dengan sesama manusia.

Dalam Sārāṇīyadhamma Sutta, Sang Buddha menjelaskan tentang enam hal yang membuat saling dikenang, saling dicintai, saling dihormati; menunjang untuk saling ditolong,untuk ketiada-cekcokan, kerukunan dan kesatuan. Hal ini tidak hanya berlaku pada seorang Pabbajita saja, tetapi juga untuk para perumah tangga:

1. Memiliki perbuatan yang disertai dengan cinta kasih

Jika kita memiliki perbuatan yang disertai dengan perasaan cinta kasih dan dengan hati yang tulus, ketika sudah tidak tinggal bersama, maka apa yang telah kita lakukan itu akan diingat, bahwa dia telah membantu saya ketika mengalami kesulitan. Ketika mengingat jasa kebajikan mereka, apa yang kita lakukan? jika kita tidak tinggal bersama, Hal yang paling mudah dilakukan adalah mendoakan semoga jasa kebajikan yang telah mereka lakukan berbuah kebahagiaan dan semoga mereka selalu dalam keadaan sehat, ini merupakan sesuatu yang paling mudah untuk dilakukan. Seseorang dikenang bukan karena kekayaan, pangkat atau harta yang dimilikinya tetapi jasa kebajikan yang dia lakukan dalam lembaran sejarah hidupnya.

2. Memiliki ucapan yang disertai dengan cinta kasih

Tidak satupun orang yang senang mendengar kata-kata kasar, karena itu akan menjadi penyakit yang sulit disembuhkan. Berbeda dengan kata-kata yang halus dan diucapkan dengan raut muka yang cerah ceria maka orang yang mendengarnya akan merasa senang. Apabila ingin mengucapkan sebuah kata maka kita harus berhati-hati, apakah ucapan itu benar dan bermanfaat? jika tidak, jangan sampai diucapkan. Jika ada kata-kata yang lebih halus mengapa mengucapkan kata-kata yang kasar. Janganlah melakukan sesuatu yang menyakitkan pada orang lain, jika orang lain itu tidak ingin melakukannya pada kita.

3. Memiliki pikiran yang disertai dengan cinta kasih

Jika kita tidak ingin orang lain berpikir jelek tentang kita, maka kita harus belajar untuk tidak memikirkan tentang kejelekan orang lain. Orang akan memperlakukan kita sebagaimana kita memperlakukan mereka. Orang akan melakukan hal yang baik jika kita berbuat baik. Ini sudah menjadi hukum alam, jika orang menanam mangga maka nanti buahnya sudah tentu buah mangga, tidak mungkin akan berbuah pisang.

4. Berbagi catupaccaya yang diterima

Bagi kehidupan seorang Samana ketika mendapatkan 4 kebutuhan pokok dari umat maka ia akan membagikannya kepada temannya, Itulah yang akan membuat kita dikenang. Bagaimana bagi umat awam? Disini dapat kita katakan, ketika kita memiliki rezeki maka kita sudah sewajarnya sebagai makhluk sosial untuk berbagi kebahagian dengan orang lain, walaupun hanya sesuap nasi tapi jika kita memberikannya dengan setulus hati, maka itu akan bermanfaat bagi orang lain dan juga akan mebawa manfaat bagi diri sendiri.

5. Memiliki kesamaan dalam pelaksanaan Sīla

Hal yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki Sīla yang seimbang, sebagai contoh ketika didalam situasi yang sempit kita kepepet saat itu pula ada kesempatan untuk melakukan perbuatan salah dan teman kita mengingatkan kita bahwa perbuatan itu tidak benar dan jangan dilakukan. Ketika diajak untuk melakukan perbuatan baik maka kita mendukungnya dan memiliki keyakinan terhadap hukum Kamma.

6. Memiliki kesamaan dalam pemegangan pandangan benar (sammādiṭṭhi)

Kita akan dikenang apabila kita memiliki pandangan bahwa apa yang kita lakukan ini adalah perbuatan yang benar, dan akan membawa kemajuan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Konsep kerukunan yang diajarkan oleh Sang Buddha tidak hanya konsep teoritis saja namun harus diimbangi dengan praktik nyata. Oleh karena itu, seseorang harus melakukan upaya untuk mewujudkan kerukunan. Sebelum kita menghendaki perdamaian bersama, diri kita sendiri harus damai terlebih dahulu. Berikutnya kita ciptakan kerukunan dalam keluarga, tetangga terdekat, ruang lingkup kerja, kelompok atau golongan kita, kelompok lintas golongan, baru pada kelompok yang lebih besar lagi yaitu dalam berbangsa dan bernegara. Sebagai umat Buddha yang telah memahami Dhamma dengan benar, sudah sewajarnya jika kita hidup penuh kerukunan dengan orang lain supaya tercipta keutuhan di dalam masyarakat.

Oleh :Aṭṭhasīlani DhitaSirini

Referensi:

  • http://www.harianjogja.com/baca/2011/02/09/kerukunan-dalam-agama-buddha-149252
  • Maxwell,John C. 2003. The 17 essential qualities of a team player. Batam Centre: Interaksa.
  • Chodron, Ven Thubten.2006.Sahabat sejati.Tanpa kota terbit: Dian Dharma.
  • Phra Rajavaracariya. 2013. Dhammapada. Tanpa kota. Bahussuta Society
  • http://www.dhammacakka.org