Hidup Rukun, Harmonis, dalam Buddha Dhamma

Samaggā sakhilā hotha

“Hendaklah saling rukun dan berbaik hati”.
[pepatah Buddhis).

Manusia sesungguhnya ingin hidup damai dan bahagia. Karena belum menemukan kebahagiaan maka kita akan menemui rintangan-rintangan yang harus dilalui. Ada kalanya manusia akan menemukan persoalan dari diri sendiri, keluarga, masyarakat dan cakupan yang lebih luas lagi. Terkadang, persoalan yang kita alami akan membuat pikiran kita kalut dan membuat diri kita tidak nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain. Kehidupan kita membutuhkan kesejahteraan, kerukunan dan keharmonisan, sehingga banyak dari kita menggunakan segala cara untuk mendapatkan hal tersebut. Ada yang mengadakan seminar antar tokoh agama, ada pula mengikuti talk show dengan harapan hidup kita menjadi rukun dan damai. Untuk menciptakan keadaan yang harmonis diperlukan latihan-latihan secara sistematis dan bertahap. Mulailah latihan dari diri kita sendiri.

Apabila lingkungan tidak terasa nyaman, dalam bergaul pula tidak bisa menciptakan rasa solidaritas yang baik, Bagaimana kita bisa hidup harmonis dan rukun? Jadikanlah diri kita layaknya seperti SAHABAT SEJATI dalam keadaan susah dan senang, disertai dengan rasa saling mengerti satu sama lainnya. Ketika kita memiliki sikap saling mengerti satu sama lain, seberat apapun persoalan yang dihadapi, akan bisa teratasi dengan baik dan bijaksana, hingga akhirnya terciptalah hidup rukun. Untuk menjalin hidup rukun, Sang Buddha memberikan ajaran yang cukup bijaksana yang terdapat dalam Dāsā Raja Dhamma. Hal ini saya mengutip sebagian dari Dāsā Raja Dhamma Tersebut:
1. Dāna (murah hati)
penyebab timbulnya ketidak-harmonisan dalam perumahtangga, masyarakat, atau badan organisasi kepemerintahan adalah KEMISKINAN. Ketika manusia jatuh miskin, tidak memenuhi kebutuhan hidup, maka hal itu menjadi ambang dari pintu kemiskinan. Perampokan, pencurian akan banyak terjadi dimana-mana. Jadi, jalan satu-satunya yang harus kita lakukan adalah dengan sering ber-dāna (memberi). Memberikan sebagian yang kita miliki tentu akan membuat hidup kita damai dengan orang lain, paling tidak damai untuk diri kita sendiri. Bahkan dengan memberi sesungguhnya kita menciptakan harta sejati, yang bisa dibawa setelah kita meninggal (Nidhikaṇḍa sutta).

2. Sīla (bermoral)
Perilaku manusia akan baik dilihat orang jika memiliki pengendalian diri saat berinteranksi/bergaul dengan orang lain. Bentuk dari pengendalian diri adalah menjaga perilaku, ucapan dan pikiran untuk tidak membunuh, mengambil barang yang tidak berikan, tidak berzinah, tidak berkata kasar, memfitnah, bergosip, omong kosong dan tidak membuat kesadaran menjadi lemah. Dengan menjalankan Pañcasīla Buddhis ini, sesungguhnya kita menghargai dan tidak merusak kebahagiaan orang lain, tetapi kita mampu mengembangkan perasaan turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain bukan berbahagia atas penderitaan orang lain. Dengan demikian, keharmonisan akan terjalin dengan baik.

3. Avihimsa (tanpa kekerasan)
Orang yang mudah marah, jengkel adalah bentuk reaksi dari kebencian, sebab ini dikatakan sebagai akar dari kejahatan (dosa). Di dalam CAKKAVATI SĪHANANDA SUTTA dikatakan bahwa “Selama kita masih mempunyai sifat amarah, selama itu juga orang-orang yang ada disekitar kita tidak merasa nyaman dan dikatakan sebagai pintu kehancuran”. Hidup rukun sangat bertolak belakang dari sifat kekerasan. Hidup Tanpa kekerasan, akan membuahkan kedamaian dan kesejateraan, baik kesejahteraan di dalam kehidupan ini maupun dikehidupan selanjutnya. Orang yang memahami Dhamma akan segera membinasakan dirinya dari sifat kekerasan. Seperti kisah di dalam Dhammapada Atthakata.

Kisah Pertengkaran di Kosambi
Suatu waktu, bhikkhu-bhikkhu Kosambi terbentuk menjadi dua kelompok. Kelompok yang satu pengikut guru akhli vinaya, sedang kelompok lain pengikut guru ahli Dhamma. Mereka sering berselisih paham sehingga menyebabkan pertengkaran. Mereka juga tak pernah mengacuhkan nasehat Sang Buddha. Berkali-kali Sang Buddha menasehati mereka, tetapi tak pernah berhasil, walaupun Sang Buddha juga mengetahui bahwa pada akhirnya mereka akan menyadari kesalahannya. Maka Sang Buddha meninggalkan mereka dan menghabiskan masa vassa-Nya sendirian di hutan Rakkhita dekat Palileyyaka. Di sana Sang Buddha dibantu oleh gajah Palileyya.
Umat di Kosambi kecewa dengan kepergian Sang Buddha. Mendengar alasan kepergian Sang Buddha, mereka menolak memberikan kebutuhan hidup kepada para bhikkhu di Kosambi. Karena hampir tak ada umat yang menyokong kebutuhan para bhikkhu, mereka hidup menderita. Akhirnya mereka menyadari kesalahan mereka, dan menjadi rukun kembali seperti sebelumnya. Namun, umat tetap tidak memperlakukan mereka sebaik seperti semula, sebelum para bhikkhu mengakui kesalahan mereka di hadapan Sang Buddha. Tetapi, Sang Buddha berada jauh dari mereka dan waktu itu masih pada pertengahan vassa. Terpaksalah para bhikkhu menghabiskan vassa mereka dengan mengalami banyak penderitaan.

Di akhir masa vassa, Yang Ariya Ananda bersama banyak bhikkhu lainnya pergi menemui Sang Buddha, menyampaikan pesan Anathapindika serta para umat yang memohon Sang Buddha agar pulang kembali. Demikianlah, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana di Savatthi. Di hadapan beliau para bhikkhu berlutut dan mengakui kesalahan mereka. Sang Buddha mengingatkan, bahwa pada suatu saat mereka semua pasti akan mengalami kematian. oleh karena itu, mereka harus berhenti bertengkar dan jangan berlaku seolah-olah mereka tidak akan pernah mati. Kemudian Sang Buddha membabarkan 6 syair berikut ini:
“Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa, dalam pertengkaran mereka akan binasa; tetapi mereka yang dapat menyadari kebenaran ini; akan segera mengakhiri semua pertengkaran”.
Semua bhikkhu mencapai tingkat kesucian sotapatti, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

4. Khanti (sabar dan rendah hati)
Kesabaran merupakan salah satu cara dalam membangun sikap harmonis. Kesabaran akan mencerminkan sikap keteguhan hati. pada umumnya, sangat sulit untuk menahan rasa emosi, jengkel, dan akibatnya menimbulkan perilaku anarkis. Sang Buddha tidak mengajarkan kita untuk bertindak anarkis melainkan menganjurkan untuk bertahan dan menjaga sikap toleransi antar sesama. Seperti pandangan Sang Buddha tentang toleransi beragama, Asoka membuat dekrit di gunung batu cadas yang berbunyi “janganlah kita menghormat agama kita sendiri dengan mencela agama orang lain. Sebaliknya agama orang lain hendaknya dihormati atas dasar tertentu. Dengan berbuat begini kita membantu agama kita sendiri untuk berkembang disamping menguntungkan pula agama lain. Dengan berbuat sebaliknya kita akan merugikan agama kita sendiri di samping merugikan agama orang lain. Oleh karena itu, barang siapa menghormat agamanya sendiri dengan mencela agama lain, semata – mata karena dorongan rasa bakti kepada agamanya dengan berpikir ‘bagaimana aku dapat memuliakan agamaku sendiri’ maka dengan berbuat demikian ia malah amat merugikan agamanya sendiri. Oleh karena itu toleransi dan kerukunan beragama-lah yang dianjurkan dengan pengertian, bahwa semua orang selain mendengarkan ajaran agamanya sendiri juga bersedia untuk mendengarkan ajaran agama yang dianut orang lain“.

Jadi, Marilah kita melatih kesabaran. Dengan melatih kesabaran sekuat tenaga dan disertai dengan keuletan, kita dapat menghindari perbuatan buruk dan dapat melakukan perbuatan baik yang berguna bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Bahwa dengan memahami prinsip ajaran Sang Buddha dan mempraktikan Dāna, Sīla, Avihimsa dan Khanti maka diharapkan akan terjalin hubungan baik antar sesama hingga akhirnya tercipta sebuah kerukunan dan keharmonisan di dalam kehidupan masyarakat.

Referensi:

  • Dhammapada, Syair Kebenaran, terbitan Ehipassiko Foundation
  • Digha Nikaya, terbitan Dhammacitta Press
  • http://www.samaggi-phala.or.id/
  • Pepatah buddhis